MASALAH NIA
Saat yang di tunggu anak-anak muda delapan sahabat ini telah tiba. Yap, hari dimana kuliah mereka telah tiba. Delapan sohib itupun diterima di sebuah Universitas yang berbeda-beda. Walaupun begitu, hubungan mereka tetap seperti pada saat mereka berada di SMA selama 3 tahun.
“Fiuh- Kuliah hari pertama sangat melelahkan.” Kata Nia pada Dhea yang memang mereka berdua diterima di universitas yang sama.
“Itu karna kita belum biasa. Nikmatin aja kali Nia. Yang penting kita cari ilmu.” Sahut Dhea.
“Iya tau. Tapi yang jelas aku pasti sangat merindukan teman-teman yang lain. Dimana kita bersenda gurau, apalagi membahas masalah KPOP.” Ungkap Nia.
“Heii,, hubungan kita nggak mungkin putus. Aku yakin kalau kita masih bisa berkumpul lagi.”
“Mana bisa, kau lihat nanti. Pasti kita akan punya kesibukan masing-masing. Aku takut hal itu terjadi. Apalagi aku juga takut kalau Devan oppa nggak akan punya waktu untuk kita lagi. Secara dia suka banget sibuk.” Jawab Nia sedih.
“Nia,, kau jangan berpikir yang enggak-enggak. Toh itukan hanya pikiranmu aja. Arasseo??” Kata Dhea.
“ehm” Jawab Nia menganggukkan kepalanya.
- Neo gateun saram tto eopseo
juwireul dureobwado geujeo georeohdeongeol
eodiseo channi
Neo gatchi joheun saram neo gatchi joheun saram neo gatchi joheun ma eum neo gatchi joheun seonmul -
juwireul dureobwado geujeo georeohdeongeol
eodiseo channi
Neo gatchi joheun saram neo gatchi joheun saram neo gatchi joheun ma eum neo gatchi joheun seonmul -
Tiba-tiba handphone Dhea bordering dengan lagu Super Junior No Other. Dhea yang mengetahui bahwa handphonenya bunyi langsung mengangkat tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
“Yeoboseyo?”
“Halo, Dhea?”
“Oh, Key oppa! Ada apa??”
“Kenapa kau seperti lupa denganku? Kau menghapus nomor teleponku??”
“Mian, aku tadi tidak melihat siapa yang menelepon. Tapi aku sangat kenal dengan suaramu. Tidak mungkin aku menghapus nomormu tanpa alasan yang jelas.”
“aku harap juga begitu. Ya!! Bagaimana dengan kuliahmu?? Apakah berjalan dengan baik??”
“Ofcourse. Bagaimana denganmu dan juga yang ada di sana??”
“Hmm.. seperti sekolah biasa. Ghea dan Alan juga fine aja. Nia, sedang apa dia??”
“Dia galau sekarang. Dia barusan bilang giamana kalau kita tidak akan bisa berhubungan lagi.”
“Jinjja?? Aiisshh, Pabo yeoja!!”
“Hei! Biasa aja kali, kita tau sendirilah. Nia orangnya memang seperti itu.”
“Ne, arasseoyo. Huft, ya sudah aku hanya ingin menanyakan itu. Nanti-nanti aku telpon lagi ya.”
“hm, Bye.”
“Bye”
Setelah sekian lama mereka menjalani hari-hari kuliah. Mereka tak pernah lupa untuk saling menghubungi satu sama lain. Yang tak terduga saat itu, salah satu dari mereka, yaitu Nia tiba-tiba tidak masuk kuliah dalam waktu yang lama. Kontan saja Dhea sangat panik apa yang sebenarnya terjadi pada Nia. Berulangkali Dhea menghubungi Nia tapi handphone Nia selalu non aktif.
“Adduuuhhh.. Ini sebenarnya Nia ada apa sih?? Di telfon nggak aktif. Aku datengin kerumahnya juga sepi. Aaahhh- Oettohkhaji??” Gumam Dhea berbicara sendiri di kamarnya.
“Ya ampun Nia, kamu kemana sih??” Lanjutnya.
Tiba-tiba Dhea mendapat ide untuk menghubungi teman-temannya. Dia telah menelpon ke Jia terlebih dahulu, kemudian ke Devan.
“Yeoboseyo?”
“Ne oppa!!”
“Waeyo??”
“Ini darurat! Udah beberapa hari ini Nia ga masuk kuliah. Aku hubungi dia tapi handphone dia selalu nggak aktif. Trus aku datengin rumahnya juga sepi. Aku benar-benar khawatir dengan dia.”
“Jinjja?? Apa kau sudah memberitahukan yang lain??”
“Hanya pada Jia. Sisanya belum. Aku benar-benar pusing sekarang.”
“Oke, kamu tenang aja. Aku akan memberitahu ke anak-anak.”
“ehm.” Akhir kata Dhea menyetujui.
Beberapa menit kemudian, Fei menelepon Dhea.
“Halo, Dhea! Apa yang terjadi pada Nia?? Kemana dia??”
“Aku juga tidak tau. Please, lebih baik kita mencari Nia bersama-sama.”
“Aku setuju, kapan kita melakukan itu??”
“Devan baru mengirimi aku pesan, besok kita cari Nia.”
“ehm, aku harap dia nggak kenapa-kenapa.”
“Sama”
“Ya udah besok kerumahmu jam berapa??”
“Setelah jam kuliah”
Otak Dhea yang penuh dengan pertanyaan :”Dimana Nia sekarang:” membuat Dhea tiba-tiba merasakan pusing dan akhirnya terlelap di atas ranjangnya.
Keesokan harinya setelah Fei, Alan, Devan, Key, Jia, dan Ghea menyelesaikan kuliahnya, mereka langsung menuju kerumah Dhea. Satu persatu dari mereka datang.
“So, sebaiknya kita sekarang langsung coba kerumah Nia aja gimana??” Ungkap Devan serius.
“Ya, langsung aja. Cepat!!” jawab dhea.
Temannya hanya menganggukan kepala dan mengikuti langkah Devan dan Dhea.
Setibanya di depan rumah Nia, mereka tak melihat satu orang pun keluar dari sana. Namun mereka menunggu sampai lama. Karna panasnya terik matahari, tempat mereka menunggu pindah di seberang rumah Nia. Tepatnya dibawah pohon yang lumayan rindang.
Mereka mempunyai firasat tentang Nia bahwa Nia akan datang ke rumahnya hari itu. Jadi mereka rela menunggu seberapapun lamanya. Selang beberapa jam, mereka melihat mobil mama Nia datang, diikuti oleh mobil papanya. Mereka langsung berdiri dari posisi duduknya.
“Itu kan mobil mamanya Nia?? Trus itu mobil papanya? Kenapa nggak satu mobil aja??” Tanya Dhea penasaran.
“Benar. Ya sudah, bagaimana kalau kita kesana??” Ungkap Jia gegabah.
“jangan!! Kalian tunggu sebentar. Lihat deh.” Kata Key.
“kenapa muka Nia kayak gitu sih??” Key melanjutkan.
“Tunggu, Tunggu,, apa dia nangis???” Ghea angkat bicara.
“Molla, dia membelakangi” Kata Devan memperhatikan.
“Kalian lihat deh. Sepertinya ada yang nggak beres sama Nia” Kata Fei menebak.
“hei, Hei,, semua pesanku baru terkirim ke Nia. Gimana kalo kita sms Nia dan bilang kalau kita ada di luar.?” Ungkap Dhea berpendapat.
“Ide bagus. Cepat kau kirim pesan padanya.” Kata Alan.
-Nia, kita ada di depan rumahmu. Please keluar sebentar dong-
Selang 10 menit setelah Dhea mengirim pesan pada Nia, Nia langsung muncul dari dalam rumahnya dan menghampiri teman-temannya yang ada diluar rumahnya.
“Ada apa kalian datang kesini??”
“Ada apa denganmu? Seakan-akan kau tidak ingin kita semua datang kesini.” Tanya Key kesal.
“Nia, apa kau tidak apa?? Kita mengkhawatirkanmu, sudah beberapa hari ini kamu nggak masuk kuliah. Dihubungi juga nggak bisa.” Ungkap Dhea.
“Aku baik-baik aja.” Jawab Nia singkat.
“Lalu kenapa kau memakai headset ini kalau Cuma keluar rumah hanya sebentar ?? Setahuku kau tidak pernah melakukan ini.” Kali ini Jia berbicara.
“Kebiasaan bisa berubah kapan aja kan Jia.”
“Kenapa kau dari tadi menjawab pertanyaan kita sangat singkat ???” Tanya Alan.
“Ya, trus kenapa matamu terlihat bengkak? Ada apa denganmu??” Tanya Fei.
“Sudah aku Bilang aku baik-baik aja!!! Oke. Sekarang lebih baik kalian pulang ke rumah. Aku akan masuk.” Jawab Nia sedikit menaikkan nada bicaranya.
Saat Nia membalikkan badan dia langsung melangkahkan kaki tanpa melihat kiri-kanan.
“NIA AWASS!!!!”
Tiba – tiba sebuah mobil pribadi yang melaju dengan cepat hampir menabrak Nia. Beruntung Devan yang tahu adanya mobil itu, dia langsung secepatnya melangkahkan kaki dan menarik tangan nia. Devan dan Nia pun terlempar ke pinggir jalan. Devan yang masih mampu untuk mengendalikan tubuhnya tidak terkena luka sedikitpun. Sedangkan Nia yang memang sedari tadi bermuka pucat kali ini bertambah pucat karna Kepala dia yang terbentur trotoar di pinggir jalan. Hal itu membuat Nia pingsan.
“Oh My God Nia!!! Apa yang membuat kamu jadi ceroboh seperti ini??” Kata Jia syok setelah melihat apa yang terjadi.
“Jika tidak ada Devan tadi apa yang terjadi padamu??” Ungkap Ghea.
“Aku berharap saat dia sadar dia mau bercerita apa yang terjadi pada dirinya selama ini,” Kata Jia lagi.
Saat Nia sadarkan diri, Nia langsung duduk dengan cepat. Tapi karna dia merasakan kepalanyya yang berat di langsung kewalahan.
“Ahh, apa yang terjadi padaku??”
“kau hampir tertabrak mobil tadi. Untungnya ada Devan yang menolongmu.” Jelas Dhea.
“Jinjja?? Oh- Gamsahamnida oppa”
“Buat apa kau berterima kasih??” Kata Devan yang membuat Nia tersentak.
“Maksudmu??”
“Kau membuat kita khawatir, kau membuat kita selalu memikirkanmu. Bagaimana mungkin kau membuat kita kecewa dengan sikapmu?? Kau mau bilang kau tidak apa-apa?? Itu bohong, terlihat dari raut mukamu. Kau tidak pernah bohong pada kita. Kau masih mau membuat kita kecewa???” Ungkap Devan panjang lebar.
“Mianhae”
“Nia, Please, crita apa yang sebenarnya terjadi.? Apa yang sebenarnya sedang menimpamu??” Ucap Jia.
Tiba-tiba Nia meneteskan air matanya.
“Sudah sekian lama mama-papaku bertengkar. Jika kau menanyaiku kenapa aku tidak masuk kuliah selama itu. Itu karena mama . . . ” ucapan Nia terhenti sejenak.
“Menuntut cerai pada papa. Masalah itu menuju pada hukum. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku akan lebih memilih melindungi adikku. Dia masih terlalu kecil untuk menerima masalah ini.”
“Lalu apakah mama papamu . . .” Sebelum Alan memeruskan kalimatnya Fei langsung memberi sedikit pukulan di bahu Alan menandakan untuk diam.
“Dalam waktu dekat ini, mereka akan kembali ke hukum. Itulah jawaban terkhirnya.” Kata-kata yang diucapkan Nia membuat Jia ikut menangis merasakan pahitnya masalah yang dipendam Nia selama ini. Bukan hanya Jia, Mata Ghea dan Fei mulai memerah menahan air mata.Sedangkan Nia sendiri menangis tiada hentinya.
Semua teman-temannya memeluk Nia. Mereka semua tak percaya hal ini akan terjadi pada Nia. Suasana saat itu menjadi penuh keharuan. Namun waktu yang membatasi Nia.. Nia harus segera kembali ke rumah. Dia harus menjaga adiknya yang masih duduk di bangku SD kelas 6.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar