OUR DREAM
Keesokan harinya Nia mulai masuk kuliah. begitu pula dengan adiknya. Dhea tak keberatan jika adik Nia bermain besama Laras adiknya di rumah Dhea. Jadi, setiap adik Nnia pulang sekolah, dia menuju ke rumah Dhea terlebih dahulu untuk menunggu Nia pulang bersama Dhea.
“Nia-ssi, Gwenchanayo??” Tanya Dhea.
“Gwenchana. Ayo kita pulang.” Jawab Nia tersenyum kecil pada Dhea.
Setelah beberapa hari berlangsung, keadaan Nia kembali pulih. Sekarang dia mulai mengerti keadaan yang menimpa keluarganya. Dia juga bisa menerima kenyataan apa yang terjadi saat itu. kehidupan dia dan adiknya berjalan begitu baik saat tinggal bersama Ayahnya. Semua teman Nia pun juga ikut senang karna Nia yang dulu telah kembali.
Selang waktu berlalu. Delapan sohib yang akrab itu sangat disibukkan dengan jadwal kuliahnya masing-masing. Lumayan lama mereka tidak bermain bersama seperti waktu SMA dulu.
Drrtt-Drrrt-Drrrtt. Handphone Nia bergetar pertanda ada pesan masuk. Dilihatnya siapa yang mengirim pesan itu, dan ternyata Devan.
-Ya, Kamu telfon aku dong. Pulsa me to the fet nih. Ada sesuatu yang mau aku omongin-
Tanpa pikir lama, Dhea langsung memencet tombol hijau di handphone touch sreennya.
“Halo?? Ada apa kau menyuruhku menelepon??” Tanya Dhea selagi menelepon Devan.
“Hmm,, kamu tau nggak?? . . .”
“Tau apaan?? Nggak tau apa – apa”
“Huh, Belum selesei ngomong Dhea. Kamu tau nggak, aku suntuk banget nih. Aku punya ide kalau kita berdelapan pergi bareng. Udah lama nggak keluar juga kan.”
“Good idea!! Aku juga bosen. Setuju banget sama idemu. Kapan??”
“Seperti biasa, Minggu pagi berangkat. Dan seperti biasa juga, ngumpulnya di rumahmu. Haha”
“Aiiissshhh,,, oke oke. Aku bilangin ke yang lain yah”
“Oke, Bye”
Dhea langsung mengirim pesan melalui SMS kepada Fei, Jia, Alan, Nia, Key, dan juga Ghea. Format pesannya pun sama, yaitu.
-Guys, hari Minggu Devan ngajak kita keluar. Jam seperti biasa yah, dan kumpul seperti biasa-
Teman-temannya mengerti pesan SMS yang Dhea maksud.
Minggu yang ditunggupun tiba, semuanya sudah mengumpul di rumah Dhea, barang – barang yang dibawa pun juga sudah siap.
“Apa nih yang belom??” Tanya Ghea.
“Perasaan uda beress deh, yasudah cabut aja. Pamit ke orang tua Dhea yuk.!” Ungkap Nia.
“Oke, sip!! Ayo, ayo.” Jawab Ghea.
“Om, Tante kita berangkat ya. Untuk sementara waktu, Dhea kita culik. Haha.” Kata Nia pada Mama dan Papa Dhea.
“Ah, tenang aja. Kalau kamu nyulik Dhea, adek kamu yang kita culik. Haha.” Jawab Papa Dhea.
“Waduh, jangan dong om. Dia sangat berharga buat Nia.” Jawab Nia.
“Siapa juga yang mau ngelepas Dhea begitu aja.”
“Hehe, maaf om.”
Dhea yang ada disitu hanya diam saja sambil tertawa kecil dan memluk pinggag mamanya.
“Hihi, ya sudah. Ma, Pa,, kita semua berangkat yah. Ntar Dhea kabarin Dhea lagi ada dimana.” Ucap Dhea.
“Iya, mama percaya, yang penting janji nggak aneh-aneh lho yah.” Jawab Mama Dhea.
“Eits, tante,, emangnya kita bermuka aneh ya?? Waahh,, gawat kalau kita nggak dipercaya.” Tiba-tiba Alan angkat bicara.
“itu kamu kan yang bilang. Ya udah sana berangkat. Keburu jalannya macet.”
“Ne eomma. Laras! Kak Rangga! Kita berangkat. Pa, kita berangkat ya.” Kata Dhea sambil mencium tangan mama papanya.
“Ya, hati-hati ya”
“Om, Tante, kita berangkat.” Ucap Devan.
“Iya, hati-hati ya semua.”
Sepanjang perjalanan mereka dihiasi dengan tawa. Sudah lama event ini menghilang. Dan sekarang mereka semua bernostalgia bersama.
“Oppa! Kemana kau akan membawa kita semua??”
Devan hanya menjawab senyuman tipis. Sedangkan semua temannya hanya saling berpandangan.
Saat tiba di tujuan, Devan langsung turun dari mobil terlebih dahulu. Sedangkan semua tidur lelap kecuali Alan yang juga keluar mobil. Jia yang tidur pun langsung bangun dan keluar mobil.
“Hooaahhmm!! Jadi kau mengajak kita kesini??”
“yah, sudah lama aku merindukan tempat ini.”
Ghea yang terbangun pun juga terkejut begitu mereka tiba di tempat yang sejuk itu, dia berpikir bahwa dia pernah datang ke tempat itu.
“Eonni, eonni!! Bangun. Kita sudah sampai.” Ucap Ghea memukul-mukul pantat Fei, Nia, dan Dhea.
“Dimana kita sekarang??” Tanya Fei.
“Lihat deh, kita pernah kesini bukan??” Tanya Ghea.
“Hm? Jinjja??” Ucap Fei balik tanya sambil melihat suasana di luar mobil.
“Oh ya, tentu saja kita pernah kesini.” Kata Fei menjawab pertanyaannya sendiri.
Fei yang tadinya bangunpun kembali tidur lagi.
“eonni!! Bangun dong !!! Uda sampai nih.!!” Perintah Ghea kewalahan.
“Aiisshh,, mereka sangat susah sekali.”
Tahu kalau Ghea orangnya jahil. Dia nggak kehabisan akal untuk menjahili yang lain. Ghea yang melihat kunci mobil masih tergantung di dalam, dia langsung menekan tombol alarm pada kunci otomatis. Nggak salah kalau teman-temannya pada terkejut minta ampun.
“GHEA!!!!!”
“kau Gila!!!” Kata Key yang ikut terkejut. Sedangkan Ghea baru sadar kalau di dalam mobil masih ada Key.
“Kenapa tidak? Jika itu bisa membuat kalian bangun?? Hihi, . . . . Mian. KAABBUUURRRRR!!!!!” Ungkap Ghea yang langsung keluar mobil dengan berlari dan diikuti oleh yang lain .
Menjelang siang menuju sore hari, saat mereka sedang asyik memanggang ayam. Tiba – tiba Alan dan Devan muncul dengan membawa sesuatu di tangannya.
“Hei Kalian!!! Lihat aku membawa apa!!!” Kata Alan seakan-akan menyuruh teman-temannya untuk menebak.
“Apaan ??” Tanya Dhea.
“Ccaaacccaaaa!!!!” Kata Alan menunjukkan kaleng yang bertuliskan :”OUR DREAMS:”.
“Our Dreams?? Mimpi yang kita tuliskan di selembar kertas??” Tanya Dhea.
“Yyapz. Apalagi. Key!! Apa kau sudah selesai membakar ??” Tanya Devan pada Key.
“Sudah. Nih masih panas. Kau mau memakannya??” Jawab Key.
“Naega aniya!!! Bagaimana nasib mulutku nanti?? Itu masih panas.” Jawab Devan diselingi tertawa.
“Hei kalian!! Kenapa masih disitu?? Butuh waktu berapa lama lagi untuk membuka kaleng ini???” Teriak Alan sedikit jengkel.
Saat semuanya berkumpul duduk membentuk lingkaran, Devan mulai membuka kaleng itu dan membagikan pada teman-temannya kertas yang ditulis masing-masing.
“-fiuh- kalian boleh membuka kertas kalian. Kemudian kalian bacakan impian kalian di depan kita semua. Arasseo??” Kata Devan menjelaskan.
“Ne.” Jawab semuanya serempak.
“Siapa yang menginginkan untuk membaca impiannya lebih dulu???” Tanya Devan.
Semua diam. Dhea yang melihat teman-temannya pada diam, dia langsung angkat tangan.
“Aku akan membacanya lebih dulu.” Kata Dhea.
“Impianku adalah aku ingin memiliki semua orang yang mencintaiku. Walaupun aku tidak mempunyai cinta pada orang itu, tapi aku akan mencobanya. I Love my Mom, my Dad, my Brother and my Sister. They’re everything for me. Selain itu aku punya impian lain, yaitu teman-temanku. Aku cinta mereka sampai kapanpun, kita yang sama-sama pecinta KPOP, kita yang sama-sama penggila negeri Ginseng. Sampai-sampai kita punya impian, yaitu pergi ke korea yang khususnya Seoul. Aku yakin itu akan terjadi. FIGHTING!!!”
Semua bertepuk tangan untuk Dhea. Sekarang giliran Fei yang membaca.
“Impian pribadiku adalah menari. Itu sudah menjadi keseharianku, aku sangat ingin menjadi penari handal dengan gerakan yang akan membuat penonton bertepuk tangan untukku. Namun disamping itu, aku juga ingin mengajak teman-temanku untuk bernari. Aku yakin mereka bisa. Mereka mempunyai semangat yang tinggi untuk meraih apapun. Sungguh aku ingin mengajak mereka bernari bersamaku. Semoga ini akan terwujud. FIGHTING!!!”
Kali ini Jia,
“Annyeong haseyo, sekedar impian sebenarnya aku haya ingin bahagia dalam hidup ini. Tapi itu sudah terpenuhi. Aku juga sangat bersyukur mempunyai keluarga dan teman yang selalu menemaniku. Impian bersama teman, sebenarnya aku ingin kita selalu menjadi yang terbaik untuk siapapun. Tapi nggak lupa juga, impian negeri Ginseng pun tetap terbayang-bayang dalam otakku. Haha. Semoga kita tak pernah berhenti disini. –Amin-“
Nia,
“Impian, siapa sih yang nggak seneng kalau impian terwujud?? Impianku bersama teman-temanku adalah, jujur, aku ingin mengajak mereka masuk ke dunia musik. Karna menurutku musik itu sangat menyenangkan. Kita bisa mencurahkan suka duka kita melalui lagu. Tapi kalau mereka yang nggak mau mana mungkin aku maksa. Haha. Oyap impian bersama!! Negeri Ginseng., hehe, semoga doa kita terkabul, -Amin- I love my family. Dimanapun mereka berada aku akan selalu mendoakan mereka. Saranghamnida”
Ghea,
“semua tahu kalau aku jahil like evil magnae Super Junior. Tapi yang jelas aku juga masih punya perasaan mendalam dengan semuanya. Perasaan itu ada pada teman-temanku. Oppa, eonni, mianhae. Aku nglakuin itu karna aku sayang sama kalian. Aku nglakuin itu karna aku ingin kita punya kenangan yang sedikit aneh. Dan aku sudah terlanjur cinta sama kalian, jika kita tidak bersama lagi, apa yang harus aku lakukan?? Dunia KPOP membuat kita jadi semakin dekat. Kadang aku berpikir, akankah kita bisa menjadi bintang Hallyu atau artis Korea?? Haha, itu hanya mimpi yang kurang kerjaan. Tapi yang jelas, sejak awal kita sudah tahu kalau impian kita adalah Go To Korea. Go Go GO !!!”
Devan,
“Impian kalau itu terjadi kita wajib mensyukurinya. Kalaupun belum, kita harus berusaha untuk menggapai impian. Just for my Friends, Aku harap ini bukanlah yang terakhir untuk kita. Kita masih harus maju, impian kita belum terwujud bersama. Korea menunggu kita. Kapan kita bisa mengunjugi Korea?? Waktu akan terus berputar dan kita akan menunggu dengan berusaha. So FIGHTING!! And Saranghaeyo.”
Alan,
“Impian Pribadi, selalu dekat dengan orang yang kucintai dan mencintaiku. Keluarga dan teman memang sangatlah berarti. Tanpa mereka hidup akan sunyi, dan yang jelas aku tidak mungkin berpijak di bumi. To my Friends, saranghaeyo. Impian yang ada di otakku hanya ada Korea dan Korea. Kita harus kesana. Tunjukkan kalau kita bisa. FIGHTING!!!”
Key,
“Impianku bersama teman, pertama Kita sudah sepakat akan mengunjungi Korea Selatan yang kita impikan. Kedua, aku akan memasak untuk kalian. Jika kalian membutuhkan makanan, telfon aku. Xixixi, O yapz, satu impian lagi. Ini sih pribadi, aku ingin mengikuti jejak idolaku. Aku ingin menjadi artis dunia. Bagaimana caranya?? Aku tidak akan gelisah dengan itu. karna aku memiliki teman yang akan memberikanku saran dan semangat. Saranghamnida.”
Begitu semua selesai mengungkapkan impiannya, semua saling berpelukkan. Nia, Dhea, dan Devan meneteskan air mata. Rasa haru bercampur senang jadi satu.
-Satu tahun kemudian-
“Hwaaaaa !!!!!! Akhirnyaaa kita bisa mengunjunjungi Korea !!! Daebak!!!” Kata Dhea kagum akan di Korea.
“Ne, nggak nyangka banget ya. Apalagi kita lengkap disini. Haha.” Lanjut Ghea yang merasakan udara di korea yang sedang dingin.
“Yap, ambil foto yuk!!” Ajak Devan.
“Ayo, ayo.!” Kata Jia semangat.
Mereka sungguh menikmati keindahan di Korea saat itu. mereka benar benar sangat senang. Begitupula dengan masalah impian, Impian Fei yang ingin menjadi penari atau dancer handal pun terwujud. Imian Nia yang ingin bernyanyi juga terwujud. Begitu juga dengan impian Key yang ingin mengikuti jejak idolanya menjadi artis dunia. Sekarang ini mereka bertiga sudah menjadi orang yang banyak di kenal di masyarakat di dalam negeri maupun luar negeri.
Sedangkan Jia, Dhea, Ghea, Devan dan Alan memiliki profesi yang berbeda – beda. Jia yang menjadi Presenter di acara TV, Dhea yang bekerja di perusahaan ayahnya, Ghea yang menjadi sekretaris sebuah perusahaan, Devan menjadi seorang Dokter terkenal, dan Alan yang memiliki profesi Pimpinan Kefe terkenal di Jakarta.
Profesi yang mereka dapatkan sangat luar biasa. Impian yang mereka bangun sejak SMA sekarang bisa terwujud. Yaitu mengunjungi Korea. Terutama Seoul.
Tak ada satupun event terlewatkan di sana. Mereka benar – benar sangat kompak. Fans fanatic dari Key yang mengikuti Key kemanapun dia pergi sangat heran melihat kekompakan Key bersama dengan teman-temannya.
Apa yang mereka katakana benar. Sesuatu tidak akan terwujud jika kita tidak ada usaha. Dan kita harus mempunyai semangat yang tinggi untuk menggapai impian kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar